Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.







Anak kecil itu tengah menghampiri kakaknya yang sedang santai membaca.










Di sebuah pagi yang cerah, kicau burung tak dapat mengelak dari hangatnya mentari pagi. Di sudut kota, nampak seseorang sedang menyiapkan beberapa peralatannya untuk bekerja. Tiba-tiba masuklah seorang paruh baya yang sudah menjadi langganan tukang cukur itu sejak dulu.
Suatu pagi, seorang tua yang bijak sedang duduk-duduk di beranda rumahnya. Seketika, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka menyiratkan ketidakbahagiaan.
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya.







