Puisi terakhir

 

saat kutulis puisi ini, malam tengah berbisik padaku
berkata tanpa suara, pelan ditelan gemericik sunyi

hendak kupejamkan mata yang lelah ini, tapi aku takut

akankah pagi menyambutku dengan senyum khasnya?
ataukah mata ini akan terpejam untuk selamanya?

entahlah…

aku hanya bisa menyandarkan diri

hidup ini bukan milikku
ada sebongkah kekuatan indah yang mengaturnya

Dia-lah yang paling mengerti akan sesuatu yang kelihatan tak berarti

ya, seperti manusia malang ini

terbuang dari kelompok serigala
tersisih dari sekumpulan impala
bahkan terseok-seok menelusuri padang savana

sendiri

jika elegi esok pagi tak lagi menghampiri,
jika matahari sudah tak sudi memberiku hari,

maka,

biarkan kuberi kalian segaris senyum
untuk kalian simpan di dalam ingatan

bahwa aku pernah benar-benar hidup untuk kalian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: