Apa Kabar Bisnis Informatika di Indonesia?


Ada sebuah terminologi menarik di era teknologi seperti saat ini seputar dunia bisnis. Mungkin kita mengenal profesi seperti enterpreneur, wiraswasta atau pedagang. Mereka semua adalah orang-orang yang mampu bekerja mandiri untuk mendatangkan keuntungan melalui proses bisnis / usaha. Jenis usaha yang mereka geluti bermacam-macam, mulai dari jual beli pupuk kandang sampai ekspor mobil mewah ke negara-negara maju. Perkembangan dunia modern memaksa mereka selalu meng-upgrade peralatan produksi guna menjaga produktifitas usaha. Oleh karena itu banyak orang yang memanfaatkannya untuk menjalankan usaha di bidang teknologi. Mereka inilah yang disebut Technopreneur.

Technopreneur sudah menjadi terminologi yang cukup populer dewasa ini. Mereka sering dikaitkan pada jenis usaha di bidang IT atau komputer. Namun jangan salah persepsi dulu, sebab dari asal-usul kata, tidak semua Technopreneur berkecimpung di dunia komputer. Di dalam Merriam-Webster Online Dictionary (http://www.m-w.com/dictionary/technopreneur) Technopreneur adalah “an entrepreneur whose business involves high technology”. Teknologi itu sendiri di bagi menjadi dua, yaitu Technology dan High Technology (hi-tech). Jika dikaitkan dengan Technopreneurship, maka ia lebih mengacu pada High Technology yang sifatnya luas, tidak mewajibkan pelakunya bergerak di bidang Sistem Informasi atau Teknologi Informasi. Bisa saja usaha teknologi jagung dan sayur mayur dengan varietas hasil riset baru (bioteknologi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Berbeda dengan IT Enterpreneur atau sering kita sebut IT-preneur yang khusus berkutat di dunia IT atau komputer saja. Technopreneur merupakan akronim dari kata Technology dan Enterpreneur, kedua istilah yang menyebut adanya komponen teknologi dari kegiatan bisnis.

Mengapa wirausahawan di bidang IT sangat diperlukan? Secara mantap dan pasti, bisnis teknologi telah menjadi budaya baru di kehidupan manusia abad 21. Bidang teknologi yang menjanjikan keuntungan besar di bisnis ini umumnya adalah Teknologi Informasi (TI), bioteknologi, nanoteknologi dan material baru. Pengusaha-pengusaha bisnis teknologi yang terkenal dengan teknopreneur pun bermunculan menjadi jutawan baru yang menduduki ranking tertinggi orang-orang kaya dunia. Bill Gates dengan Microsoft, Steve Jobbs dengan Apple Computer, Michael Dell dengan Dell computer, siapa yang tak kenal mereka? Belum lagi kita sebut jutawan di belakang yahoo, google, youtube, amazon dan seterusnya. Padahal, waktu memulai usaha, mereka tidak mempunyai modal uang, tanah atau mesin yang besar. Mereka hanya punya ‘knowledge’ yaitu gagasan teknologi. Dengan cepat mereka mengakumulasi modal dari pemodal ventura sehingga menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Ini karena teknologi yang mereka kembangkan ternyata berhasil dan diterima pasar.

Sillicon Valley, icon bisnis-bisnis teknologi informasi di dunia pun banyak ditiru di tempat lain. Asia tidak ketinggalan, bahkan berkembang sangat pesat. Taiwan dan India sebagai contoh, berkembang dan mencatat teknopreneur kelas dunia seperti Stan Shih dengan Acernya, NR Narayana Murthy dan Nandan M. Nikelani mengembangkan Infosys Technologies Ltd., yang menjadi perusahaan teknologi informasi berskala internasional dan menduduki peringkat kedua terbesar di India.

India juga memiliki seorang Azim Premji, bahkan berhasil melakukan revolusi perusahaan minyak goreng bisnis keluarga, Wipro, menjadi Wipro Technologies Ltd, perusahaan perangkat lunak terbesar ketiga di India. Lenovo di Cina, dengan sang komandan Yang Yuanqin, membuat mata dunia terbelalak ketika mengumumkan akuisisi divisi laptop korporasi besar dunia IBM Thinkpad.

Bagaimana dengan Singapura dan Malaysia? Tidak kurang dana trilyunan dolar singapura digunakan negeri singa ini membangun Bio Valley di Jurong. Sedangkan Malaysia membangun super corridor di kota baru Putra Jaya.Apa kabar Indonesia? kabar terkini dari Indonesia, pembangunan Cyber Park di daerah Bogor terkendala dana dan bangkrutnya perusahaan pengembang. Saat ini, sungguh ironis, sudah berubah fungsi menjadi ladang jagung, walau menurut penjaga lahan, hanya sementara karena keisengan dia semata.

Sudut pandang seorang Thomas L Friedman juga sama. Friedman terkejut dan kagum dengan perkembangan Teknologi Informasi di negeri Hindustan. Hal ini jelas tergambar dari apa yang ditulis dalam buku best seller dan sensasionalnya ”The World is Flat” (2006). Mulai dari IT Evangelist, Software maupun Networking Specialist semua dipenuhi oleh IT enterpreneur dari India. Bangalore, sebuah pusat industri TI di India, tidak jauh berbeda dengan kondisi di AS, negeri asal Friedman. Banyak perusahaan-perusahaan bertaraf internasional seperti Dell, Hewlett-Packard dan IBM terlihat, selain dari edung-gedung perusahaan lokal India di bidang IT. Tenaga kerja di bidang IT yang berasal dari India tidak meragukan. Selain murah, keahlian dan kepandaiannya sangat mumpuni, sehingga Sillicon Valley pun diisi oleh banyak sarjana TI India.

Dari sebuah media cetak nasional, diliput wawancara dengan Carlos Patriawan, seorang IT preneur asli Indonesia yang ada di Juniper Network, yang lahir dan berkantor pusat di Sillicon Valley, AS. Pria ini memberikan informasi bahwa semuanya berawal dari orang-orang India yang ‘dikirim’ bekerja di Sillicon Valley. Berdasarkan pengalamannya, Carlos memberikan 3 karakteristik yang membuat mereka unggul di bidang teknologi, yakni : motivasi yang sangat tinggi, rajin mencari tahu cara kerja sebuah program atau mesin, serta kuatnya kultur berbagi (sharing culture) dan tolong menolong. Hal yang sebenarnya menurut Carlos ia temui juga di beberapa gelintir orang Indonesia. Bedanya, India di dukung oleh ekonomi, kultur, dan pemerintah.

Di Indonesia, masih menurut Carlos, orang-orang yang mempunyai talent ‘terpaksa’ keluar negeri karena lingkungan yang kurang supportif. Budaya kerja yang tidak sehat di Indonesia seperti saling sirik, sikut kanan kiri, budaya KKN yang bertentangan dengan IT entrepreneurship dan engineering, Pemerintahan juga kurang mendukung maksimal.

Tapi karena keadaan ini jangan sampai menyurutkan semangat kita untuk menjadi seorang technopreneur, karena realitanya, invidu-individu bangsa ini tidak kalah bersaing dalam kemampuan teknologi informasi. Justru dengan adanya masalah-masalah tersebut, seharusnya kita lebih bersemangat lagi untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bisa!

7 Responses to “Apa Kabar Bisnis Informatika di Indonesia?”

  1. indobrad Says:

    Waaah, akhirnya blog ini ada postingan baru. Hehe.
    Sebenarnya bukan hanya technopreneur, secara umum dunia enterpreneurship di Indonesia masih baru bangun tidur dan belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah kita. Budaya orang Indonesia yang masih lebih menghargai pekerja kantoran daripada perintis usaha adalah satu kendala utama belum majunya bangsa kita.

    Saya sih berharap banyak pada cingciripit.com😀

  2. cop Says:

    kabar baik bung..
    hehe..

  3. dhodie Says:

    Teknopreneur.. apakah dirimu sedang menuju ke sana, kawan?

    Semoga geliat pemuda Indonesia yang semakin tertarik untuk bergerak di bidang kewirausahaan akan membuka banyak lapangan kerja baru.

    Maju terus!

  4. guilin Says:

    ya, dunia enterpreneur di Indonesia memang perlu dibangkitkan😆

  5. jutawan Says:

    semoga membantu

  6. Blog Do Follow Says:

    yah Indonesia memang aneh….

  7. iman Says:

    mantap..semoga bermanfaat……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: