Surat Cinta via Tukang Becak

30 Oktober 2012

Kemarin dulu, aku tak sengaja melihat kau mengganti foto profil di facebook-mu. Waktu itu kau mengenakan baju bermotif bunga berwarna sama dengan pias wajahmu, merah muda. Aku suka mata itu. Aku suka senyum itu. Iya, seperti yang ada di fotomu. Tak banyak aku temui wanita dengan senyum memikat seperti itu. Saat itu juga aku berpikir dan mencari cara untuk bisa tahu lebih jauh tentangmu.

Jujur aku tak mengenalmu. Pun aku bingung, kenapa ada kau di dalam daftar teman facebook-ku. Lucunya, kita kuliah di universitas yang sama. Dan belakangan aku tahu, kau sudah mengenalku lebih dulu. Kau bilang sering melihatku mengobrol dengan temanmu, meski sebatas pertemuan singkat dan selewat. Sayangnya empat tahun kita kuliah aku sama sekali tak menyadari hal itu. Sungguh aku sesalkan.

Hey, masih ingatkah kau dengan pesan pertamaku di facebook? Petanyaan retoris yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya. Haha. Waktu itu tanggal 29 April pukul sebelas malam. Modusku ialah menanyakan pekerjaanmu di Adira dan posisimu di sana. Pesan terkirim. Aku tak berharap langsung kau balas. Aku cukup mafhum melihat keaktifanmu di jejaring sosial. Tanggal 2 Mei pukul tujuh pagi, aku mendapati apa yang aku harap-harapkan, balasan pesan yang cukup hangat dari seseorang yang baru kukenal. Tanpa pikir panjang, langsung kubalas jawaban pesan darimu. Pesan terkirim. Harapan yang sama seperti yang pertama.

Berhari-hari aku menunggu lagi balasanmu. Namun tak kunjung aku dapatkan. Otakku berputar lagi. Lalu aku mencoba mencari tahu nomor handphone-mu. Akhirnya aku dapatkan dari seorang kawan. Tanggal 4 Mei pukul sembilan malam aku mengirim pesan singkat. Pura-pura menanyakan apakah benar yang aku dapatkan ini nomor handphone-mu. Sekali lagi, pertanyaan retoris. Tak kusangka cuma butuh 3 menit pesanku berbalas. Balasan pesanmu lucu. Mencoba akrab namun bernada heran. Aku tak mau kalah. Aku balas lagi pesanmu dengan sedikit diplomatis. Hasilnya kau tertawa. Kau tahu, karena hal itu aku jadi senyum-senyum sendiri semalaman.

Kau ingat ketika pertama kita bertemu? Kalau tidak salah tanggal 22 Agustus. Aku datang dua jam lebih awal dari waktu janjian kita. Aku pikir antrian tiket akan sangat panjang. Tapi, sssstt.. jangan bilang siapa-siapa, sebenarnya kedatanganku lebih dulu ada maksud tertentu, mengumpul-ngumpulkan keberanian. Kalau kau mau tahu, itulah dua jam paling lama dalam hidupku. Anehnya, ada perasaan senang yang bermain dalam penantian penuh kecemasan. Aku seperti menikmati setiap detik waktu yang berlalu, senada degup jantung yang tak karuan. Selama itu pula aku merasa bodoh sekali karena tak kunjung hafal kalimat pembuka yang telah aku siapkan. Aku merasa ruang tunggu bioskop lebih dingin dari biasanya.

Lewat celah pintu, aku menangkap sosok tinggi semampai berjalan ke arahku. Langkah demi langkah, terus mendekat. Tahukah kau, saat itu aku ingin berlari sekencang-kencangnya. Meninggalkan serta menanggalkan gemetar di dada dan rasa dingin di telapak tangan. Namun kaki ini tak mau kompromi. Ia membatu. Lalu meluncurlah kalimat pertama yang sangat Jakarta, “Hai, apa kabar? Macet ya di jalan?”. Dan saat itu aku grogi luar biasa. Seluruh rancang konsep perkenalan yang sudah aku buat berhari-hari menjadi tak berguna. Semuanya terasa kaku. Pandanganku beku. Lidahku kelu. Tapi di sana terselip perasaan girang tiada kepalang. Entah dimana. Selanjutnya kita memakai hari dengan kebekuan yang menyenangkan.

Pertemuan kita yang kedua, waktu itu kau yang mengajakku. Oh, bukan, lebih tepatnya kau menagih ajakanku yang pernah mengajakmu, kuliner sop duren Margando. Tanggal 23 September pukul setengah satu siang, kau mengirim pesan. Sungguh ajakan itu amat sangat mendadak. Untungnya aku sedang tak ada kegiatan. Ah, kalaupun aku sedang sibuk, aku akan tetap mengiyakannya. Hehe. Setelah puas menikmati sop duren, kita beranjak pergi ke danau UI. Disana kita banyak mengobrol. Mengenai hal-hal yang ingin aku bagi denganmu. Mengenai hal-hal yang ingin aku tahu tentangmu.

Dulu, aku sering singgah ke danau UI selepas kuliah, untuk sekedar duduk-duduk atau mengitari sekelilingnya. Kadang bersama teman-teman, tapi lebih sering sendirian. Aku menemukan sedikit kedamaian. Dan pada saat kau hadir di sana, aku rasa kedamaian itu jadi sempurna. Kau ingat, buah dari pohon yang tidak kita ketahui namanya itu? Iya, kita tidak sengaja menemukan buah asing ketika menelusuri jalan setapak. Aku bingung, kau pun bingung. Kita berhenti sebentar untuk sekedar memastikan buah apa gerangan. Lalu aku dikejutkan olehmu yang tiba-tiba saja melompat. Kau melompat untuk menjangkau serta menyentuh buah yang letaknya tidak terlalu tinggi itu. Kau tahu, ketika itu juga aku merasa sanggup untuk melompati apa pun yang ada dalam hidupku.

Perasaan ini sedianya aku ungkapkan berbulan-bulan lalu. Waktu itu aku terlalu malu dan merasa bersalah sehingga tidak menuliskannya. Kita sudah dua kali bertemu, tapi aku selalu urung melakukannya. Rasa malu dan rasa bersalah ternyata seperti pohon jika disimpan. Mereka akan tambah tumbuh dan kian susah dicabut. Kini rasa bersalah itu selebat hutan.

Awalnya aku takut mengatakan satu hal ini. Namun, apa pun yang kau rasakan setelahnya, aku akan tetap mengatakan bahwa aku selalu merindukanmu. Aku merindukanmu seperti sungai kering di musim kemarau merindukan air mengaliri tubuhnya. Seperti akar-akar pohon merindukan hujan. Begitulah seorang aku merindukanmu sepanjang waktu.

Aku mencintaimu, ***. Aku mencintaimu, seperti burung kepada angin yang membantunya terbang. Seperti penulis kepada huruf-huruf yang membuatnya dibaca. Seperti sungai kepada laut yang menampung lelah perjalanannya. Seperti laut kepada langit yang menjatuhkan dan mengisapnya berkali-kali.

Lalu, bagaimana denganmu? Aku harap, aku dapat mengetahui jawabanmu secepatnya. Oya, sebentar lagi 2 November. Selamat ulang tahun ya. Aku selipkan kado kecil bersama surat ini. Semoga kau suka.

Aku tak tahu kapan tepatnya surat ini sampai padamu. Semoga sebelum 2 November itu. Karena aku ingin jadi yang pertama mengucapkannya untukmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: