Ikatkan sehelai Pita Kuning bagiku

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Read the rest of this entry »

One Chance in Life

“Tuhan.. berikan aku hidup satu kali lagi.. nananananana”

yak, kira2 begitulah sebuah lirik lagu yang mengungkapkan bahwa setiap manusia yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, ingin diberikan satu kali kesempatan lagi. Namun apa daya, penyesalan lah yang hadir menghantui setiap lekuk hidupnya. Dalam Al-Qur’an banyak digambarkan penyesalan2 mereka yang meninggalkan berbuat kebajikan di dunia ini, salah satunya terdapat dalam Surah Al-Mukminum Ayat 99:

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata, ‘Tuhanku, kembalikan aku (Ke dunia), agar aku berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan’.” (Al-Mukminun: 99)

Tapi lain halnya jika kehidupan itu sendiri yang memberikan kita kesempatan untuk HIDUP SATU KALI LAGI. Bukan, bukan hidup yang memberikan, tapi Allah-lah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang memberikan kesempatan itu. Maka kawan, jika hal tersebut terjadi dalam hidup kita, maka BERSYUKURLAH sejadi-jadinya! Itu adalah kesempatan terbesar yang diberikan Allah kepada kita untuk memperbaiki setiap kesalahan kita di masa lalu, dan kembalilah pada-Nya.

Dibawah ini ada video yang memperlihatkan bagaimana manusia benar2 digerakkan oleh tangan takdir. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang tahu bagaimana takdirnya.

Dan satu lagi, di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur oleh yang Maha Mengatur, tanpa ada cacat sedikit pun.

Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.

(Diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya)

Aku Menangis untuk Adikku 6 kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat dikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.”Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. sudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah >dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata,
dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?”
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Terjemahan dari : I cried for my brother six times

sumber

“Mengapa kakak menamparku?”

1 pertanyaan 3 jawabanAnak kecil itu tengah menghampiri kakaknya yang sedang santai membaca.

“kakak…” sapa anak itu dengan manja.

“ada apa dik?” jawab sang kakak sambil menutup buku yang sedang ia baca.

“hmm.. ini kak, aku punya 3 buah pertanyaan, namun setiap orang yang aku tanya pasti mereka kesulitan untuk menjawabnya. Bisakah kakak menjawab pertanyaanku yang sudah lama membuatku bingung..”

Sang kakak menatap mata adiknya dalam-dalam, “kakak akan berusaha menjawabnya..”

Dengan senyum penuh harap si anak langsung menyodorkan 3 buah pertanyaan,,

“pertanyaanku yang pertama gini kak, Coba kakak tunjukan wujud Tuhan kalau memang Tuhan itu benar-benar ada..?”

“pertanyaan yang kedua, mmm… Takdir itu apa kak?”

“dan pertanyaanku yang terakhir, Kan setan terbuat dari api kak, kenapa pas di akhirat dia dimasukkan ke neraka? kalau sama-sama api kan gak bakalan sakit kak? apa Tuhan gak kepikiran masalah ini ya??”

Mendengar tiga pertanyaan adiknya itu, sang kakak sejenak terdiam lalu tiba-tiba menampar pipi adiknya.

“aduh..! Kenapa kakak menampar aku? apa kakak marah padaku?” tanya sang adik terkejut.

“tidak, tamparan itu adalah jawaban atas 3 pertanyaanmu tadi..”

sang kakak melanjutkan,

“bagaimana rasanya setelah kakak menamparmu tadi?”

“sakit kak!” jawab si anak agak kesal.

“sekarang coba tunjukkan wujud dari rasa sakit itu?”

“tidak bisa kak, tapi aku merasakanya..” sanggah si anak.

“begitulah Tuhan, memang kita tak mampu melihat wujudnya, namun kita dapat merasakan keberadaan-Nya”

“lalu..” sang kakak melanjutkan, “apakah tadi malam kamu bermimpi akan ditampar kakak pagi ini?”

“tidak kak..”

“apakah pernah terpikirkan olehmu bahwa kakak akan menampar kamu?”

“tidak kak..”

“itulah yang dinamakan takdir.. “ kata sang kakak penuh iba melihat adiknya yang kesakitan.

“untuk menjawab pertanyaanmu yang terakhir kakak akan bertanya lagi padamu, terbuat dari apakah tangan kakakini?”

“dari kulit..”

“lalu bagaimana dengan pipimu, terbuat dari apa?”

“tentu saja sama kak, dari kulit juga..”

“mengapa kamu merasa sakit? sedangkan tangan kakak  dan pipi kamu terbuat dari bahan yang sama? Begitu pula dengan setan di neraka nanti, dia akan merasakan azab Allah yang pedih..”

anak kecil itu terdiam, sejenak merenungkan jawaban-jawaban cerdas dari sang kakak. Melihat itu, lantas sang kakak menasihatinya…

“begitulah.. terkadang pertanyaan yang jauh dari logika manusia hanya dapat dijawab menggunakan perumpamaan.. mudah-mudahan kamu bisa mengerti..”

Pahlawan 2009

Pahlawan.. tak selalu identik dengan peperangan..

yap,, sebagian dari kita kalo denger kata pahlawan langsung aja ngebayangin perang, berdarah, terluka, bambu runcing, bendera dan berbagai atribut perang lainnya,, tapi pada kenyataannya, Pahlawan bertaburan di sekitar kita, mereka ada dan benar-benar ada! *yaiyalah ada, orang masih idup* 😀

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Sedangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 33/1964:

  1. warga negara RI yang gugur dalam perjuangan-yang bermutu-dalam membela bangsa dan negara,
  2. warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya.

Terlepas dari pengertian “kaku” tersebut, lahirlah banyak pahlawan dalam berbagai sendi kehidupan. Seperti sebuah penghargaan berikut ini yang diberikan kepada mereka yang telah banyak berbuat untuk bangsa ini dalam berbagai bidang. Para Pahlawan yang dinobatkan oleh Kick Andy Heroes 2009 ini adalah…

KATEGORI LINGKUNGAN HIDUP

  1. Viktor Emmanuel (menanam bakau di NTT)viktoremmanuel
  2. Chaeruddin atau Bang Idin (menghijaukan kali Pasanggrahan)chaeruddin

KATEGORI PENDIDIKAN

  1. Wanhar Umar (guru dan kepala sekolah yang cuma lulusan SD di daerah terpencil di Sumsel)wanharumar
  2. Didit HP (mendidik dan memberdayakan pembantu rumah tangga di Surabaya, Jatim)didithp

KATEGORI SOSIAL

  1. Gendu Mutalif (merawat dan menyembuhkan orang-orang gila di Bekasi, Jabar)gendumutalif
  2. Meggy Megawati (aktivis transgender yang memberdayakan kaum waria)meggymegawati

KATEGORI KESEHATAN

  1. Gisela Borowska (merawat penderita lepra di NTT)
    ejak 1963 Gisela Borowka, perempuan asal Jerman berjuang mendampingi penderita lepra (kusta) di Loweleba, Pulau Lembata, NTT. Di saat masyarakat menjauhi mereka, Gisela yang dikenal dengan panggilan Mama Putih, malah merawatnya dengan kasih sayang.
  2. Siti Aminah (bidan untuk orang miskin di Tanjung Priok, Jakarta Utara)sitiaminah

CATEGORI SENI DAN BUDAYA

  1. Didi Nini Towok (penari crossgender asal Yogyakarta)didininitowok
  2. Marsius Sitohang (tukang becak, pelestari musik dan dosen etnomusikologi USU Medan)marsiussitohang

CATEGORI PENGHARGAAN KHUSUS

  1. Siti Rabiah (Suster apung yang dengan perahunya melayani penduduk pulau terpencil di laut Flores)sitirabiah
  2. Sugeng (penderita cacat kaki dan pembuat kaki palsu)sugeng

Emangnya Tuhan itu ada?

peralatan cukurDi sebuah pagi yang cerah, kicau burung tak dapat mengelak dari hangatnya mentari pagi. Di sudut kota, nampak seseorang sedang menyiapkan beberapa peralatannya untuk bekerja. Tiba-tiba masuklah seorang paruh baya yang sudah menjadi langganan tukang cukur itu sejak dulu.

“Potong seperti biasa ya bang..” pinta sang bapak.

Lalu tanpa berlama-lama, si tukang cukur pun langsung memenuhi permintaan pelanggannya agar tidak kecewa. Bapak itu merupakan pelanggan paling setianya dan ia harus melayani si bapak dengan sebaik mungkin.

“Gimana kabarnya pak?” tanya tukang cukur membuka pembicaraan.

dan selama proses mencukur itu mereka saling bercerita mengenai kegiatan mereka sehari-hari. Banyak hal-hal yang diceritakan tukang cukur kepada si bapak mengenai profesinya selama ini. Setelah itu, agak beberapa lama mereka berdua terdiam dan si bapak mendapatkan pertanyaan yang mengejutkan dari tukang cukur,

“Bapak percaya kalau Tuhan itu ada?”

si bapak kaget mendapatkan pertanyaan seperti itu,

“tentu saja saya percaya, Tuhan itu pasti ada..!” jawabnya agak sedikit kesal.

“Kalau memang ada kenapa di dunia ini banyak sekali penderitaan, kemiskinan, dan kelaparan? Kenapa ada orang sakit?” tanya tukang cukur dengan penuh gairah.

“Seharusnya jika Tuhan itu benar-benar ada maka tidak mungkin ada penderitaan, kelaparan, tidak mungkin ada orang sakit, karena Tuhan itu Maha Penyayang, tidak mungkin Dia berlaku tidak adil kepada hamba-Nya..” papar tukang cukur panjang lebar.

Si bapak hanya diam saja, dia tidak ingin memulai perdebatan dengan tukang cukur langganannya itu. Ia hanya mendengarkan tukang cukur bicara panjang lebar sambil sedikit-sedikit menganggukkan kepala.

Setelah cukur selesai, si bapak langsung membayar dan pergi keluar. Tak jauh dari tempat ia cukur, berpapasanlah ia dengan seseorang berpenampilan menyeramkan. Rambutnya gondrong awut-awutan, mukanya dipenuhi brewok. Terlihat sangat berantakan. Seketika itu si bapak berbalik arah dan kembali menemui tukang cukur.

“Sekarang aku katakan padamu bahwa tukang cukur itu sebenarnya tidak ada!” tegas si bapak.

“hah? mengapa kamu mengatakan demikian? saya ini tukang cukur!” kata tukang cukur agak sedikit keras.

“Tidak, tukang cukur itu tidak ada..”

“Bagaimana mungkin, beberapa waktu yang lalu saya mencukur rambut bapak, berarti tukang cukur itu ada!” bantah tukang cukur sedikit emosi.

“Kalu tukang cukur itu ada, kenapa masih ada orang yang rambutnya gondrong tak beraturan, dan mukanya dipenuhi brewok???” tanya si bapak

“Jelas saja, mereka tidak datang padaku! makanya rambut dan muka mereka seperti itu!!”

“Lalu bagaimana dengan Tuhan?” tanya si bapak.

“Maksud kamu apa?” tukang cukur balik bertanya.

“ya, tadi kamu bilang kalau Tuhan itu ada, maka kenapa ada penderitaan dan kelaparan di dunia ini.. ”

“Itu karena mereka tidak pernah datang kepada Tuhan! mereka tidak pernah mau mencari Tuhan untuk sekedar bertegur sapa dalam doa.. sama seperti orang brewok yang saya temui tadi, dia tidak mau datang kepada kamu untuk mencukur rambutnya yang berantakan, ia membiarkannya seperti itu sampai ia terlihat begitu  menakutkannya!”

pernyataan si bapak membuat tukang cukur terdiam dan mulai meyakini bahwa Tuhan itu ada.. sekarang tergantung kepada hamba-Nya, apakah ia mau mencari Tuhannya dan mengakrabkan diri dengan-Nya…

Garam dan telaga

garamSuatu pagi, seorang tua yang bijak sedang duduk-duduk di beranda rumahnya. Seketika, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka menyiratkan ketidakbahagiaan.

Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.
Belum selesai ia bercerita, Pak tua langsung masuk kerumahnya dan mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya utnuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.”Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar pak tua.

“Pahit, pahit sekali!”, jawab anak muda, sambuil meludah ke samping.

Pak tua itu tersenyum, lalu ia mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampaiklah mereka di tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang hingga tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.”Coba ambil air telaga ini, dan minumlah..” Saat anak muda itu selesai mereguk air itu, pak tua bekata lagi,”Bagaimana rasanya?”

“Segar..” sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya pak tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga.
“Anak muda, dengarlah.. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.”

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua kan bergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan.”

Pak tua itu kembali memberikan nasehatnya,”Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelasm buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan pak tua, si bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain. yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.