Skripsi Revolusioner atau Lulus tahun ini? #2


Seumpana alam liar, maka aku adalah pemburu amatiran yang menyerahkan diri pada raja hutan. Suatu bentuk tindakan sembrono yang jelas-jelas dilarang agama mana pun. Entah setan mana yang berani merasuki jiwaku hingga akhirnya aku memilih dosen pembimbing sekelas beliau. Banyak kalangan yang mempertanyakan, tidak sedikit yang merasa heran, tapi aku punya alasan, aku punya pertimbangan. Selain pola pikirnya yang unik menggelitik, beliau adalah koordinator kerja sama luar negeri, siapa yang dapat menyangka jika tahu-tahu aku “kecipratan”.

Jika sudah begini, aku pun sudah dapat meramalkan nasibku ke depan. Penuh dengan marabahaya dan rintangan yang bisa saja dengan tiba-tiba menusukku dari belakang. Dan buat orang galau, firasat adalah satu-satunya penuntun jalan, kadang sampai tujuan, tapi yang lebih sering terdengar masuk jurang. Dan semua kegalauan ini bermula pada satu waktu dimana judul skripsi menjadi primadona pemikiran, sepanjang malam.

Topik yang ingin aku angkat untuk dijadikan bahan penelitian skripsi adalah Bioinformatika. Selain Matematika dan Fisika, Biologi adalah sisi lain dari diriku. Dan setiap mendengar kata “gen”, darah mudaku bergejolak. Kata itu menstimulus otakku untuk lebih keras bekerja, tentunya dalam hitungan irama. Maka untuk menjadapatkan judul yang pas, aku menghabiskan waktu berminggu-minggu. Terjebak dalam masa-masa galau yang membuat risau. Wajah yang ditekuk, rambut yang berantakan, pakaian yang lusuh menjadi top mode 2011, paling tidak dalam duniaku, dalam keseharianku. Sampai-sampai aku menginap di kantor untuk sekedar mengumpul-ngumpulkan keberanian menentukan pilihan. Do’a, hampir bosan aku panjatkan. Namun, inspirasi itu tak jua tiba.

Hingga pada suatu ketika, dalam masa pencarian ide via internet, aku menemukan sebuah artikel yang membahas mengenai masa depan gen. “Cocok!” aku membatin. Dengan terbata-bata, aku baca satu per satu kata walau jujur agak tersiksa. Barangkali kawan tahu betapa memprihatinkannya pengetahuanku tentang bahasa inggris. Namun, setelah agak kupahami isi dari artikel tersebut, tiba-tiba ada lampu menyala di atas kepalaku. Benderang!

Maka usahaku untuk menggali sebanyak mungkin informasi mengenai hal tersebut terus aku lakukan. Salah satunya adalah bertanya pada kawan-kawan di twitterland. Hasilnya memuaskan. Berkenalanlah aku dengan seorang Bioinformatician, Arli Aditya Parikesit. Seorang asisten peneliti di Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Semenjak itu, kami sering berbalas email, terkait dengan topik penelitian yang aku ajukan. Dan seiring dengan surat-surat yang meluncur di inbox, aku semakin sadar siapa diriku, seberapa besar kapasitasku untuk sebuah subject bernama Bioinformatika yang jelas-jelas aku buta! Namun beliau masih tetap memberikanku peluang untuk sedikit berharap. Kuncinya, terletak pada Dosen Pembimbing.

Judul, memang belum aku temukan seutuhnya. Paling tidak aku sudah memiliki 4 topik unggulan yang akan aku jadikan senjata untuk menodong Dosen Pembimbing. Inilah mereka:

  1. Analisa penyakit online berdasarkan gen
  2. Klasifikasi virus/bakteri
  3. Bank data gen Indonesia
  4. Search engine biologi molekular
Setelah aku baca berulang-ulang topik-topik tersebut, aku sungguh terkesan. Tapi di sisi lain ada yang membisikkan, “apa bisa dilakukan?” Maka, dalam kegamangan aku berusaha mati-matian meyakinkan diri untuk terus maju, apa pun yang terjadi. Dan tibalah waktunya untuk menodongkan ‘senjata-senjata’ itu tepat di muka Dosen Pembimbing. Aku agak nervous sekaligus cemas-cemas berharap. Dan dalam hitungan detik, ‘senjata-senjata’ yang aku todongkan tadi berbalik arah, menodongku. “Sial betul! ” pikirku. Dalam keadaan tersebut aku dikagetkan dengan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan yang mengenaskan. Ya ampu, demi Tuhan, jangan sampai kejadian. “Kamu mau skripsi 2 tahun kayak saya?” Tiba-tiba, lagi, semua kembali gelap.

NB: Thank to Evans yang udah ngasih tempat buat cari wangsit 😛
Advertisements
Posted in Skripsi. Tags: . 2 Comments »

Skripsi Revolusioner atau Lulus tahun ini? #1

Judul tulisan ini, jika kawan mau tahu, sudah berminggu-minggu terpajang di status YM-ku. Mungkin sedikit terlihat naif, tapi itulah aku, senang sekali berkutat dengan cobaan maha berat sampai berhasil melampaui batas-batas realitas. Disokong oleh super ego yang aku miliki, maka aku ini tipe orang yang keras kepala, tak mudah melepas begitu saja apa yang telah lamat-lamat aku yakini. Walaupun pada akhirnya aku pun akan tahu, bahwa aku ini, tidak lebih dari seorang pangeran yang merindukan bulan. Kata orang dulu ini idealisme. Ya, kata orang dulu. Di zaman edan ini paham idealisme tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa! Ah, sudahlah.. Pembahasan mengenai idealisme silakan kawan cari tahu sendiri. Aku tak mau ribut-ribut soal pemahaman dan keyakinan. Aku tak mau menelanjangi kebenaran.

Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orangtua, sejak dulu. Maka, dalam setiap keputusan yang aku tetapkan, larinya tak jauh dari ‘membahagiakan orangtua’, demikian pula halnya dengan apa yang sedang aku jalani saat ini, skripsi. Perlu kawan ketahui, kampusku adalah salah satu almamater yang menjunjung tinggi kebijaksanaan. Jadi jika ada mahasiswanya yang ‘berhalangan’ untuk menyusun skripsi, maka mahasiswa beruntung tersebut dapat lulus dan wisuda dengan mengikuti paket ujian yang telah disediakan. Tapi buatku, skripsi nomor satu. Kenapa? Ya, karena menurutku menulis skripsi adalah suatu tanggung jawab seorang intelektual muda. Skripsi adalah karya pribadi, hasil dari penelitian yang jauh dari main-main. Tujuannya? Jelas untuk pengabdian pada masyarakat. Maka aku, yang masih berpredikat sebagai mahasiswa, terlepas dari beban-beban moral yang sering dikaitkan, entah itu “agent of change” atau apa lah,  punya tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa ini, sekecil apa pun bentuknya.

Selaras dengan judul yang dipajang berminggu-minggu, agaknya selama itu pula setan-setan galau memantau. Tidur tak nyenyak, makan pun tak enak. Dada sesak, kembang kempis persis katak. Tak jauh beda dengan orang yang kena santet! Pada tahap ini aku hampir benar-benar ambruk. Padahal permasalahannya terletak pada satu hal sederhana, menentukan judul. Tapi, semua orang tahu, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Maka judul skripsi adalah niat. Mau dijadikan apa penulisan ini, untuk apa, dan apakah manfaatnya dapat dirasa. Semua berkecamuk, hilir mudik, mondar mandir, jungkir balik dalam sebuah labirin ketidakpastian. Bahkan untuk menentukan dosen pembimbing pun aku tak berdaya, begitu banyak orang pintar (dalam artian sebenarnya) disini. Dan dengan segala pertimbangan teknis dan psikis akhirnya aku memilih Dr. rer. nat. I MADE WIRYANA, SSi,SKom,MSc. Tragis!

Seperti dugaanku, seperti ulat bulu, tiba-tiba aku diserang banyak pertanyaan. Dosen yang seharusnya di blacklist dalam daftar calon dosen pembimbing itu malah aku hitamkan. Ada yang memuji tapi tak sedikit yang membuat sangsi. Pasalnya dosen satu ini dikenal “sulit”. Kebiasaannya lain dari yang lain. Maka beliau adalah dosen yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Terlebih untuk pemilihan perangkat lunak, anti berlisensi. Aku sudah tahu ini, dan aku akan menerimanya sebagai resiko alami. Dan aku pun nantinya akan tahu pula, bahwa skripsi yang akan aku jalani akan berbeda dengan orang kebanyakan, baik dari sisi topik sampai perangkat-perangkat pendukung untuk penulisan. Dan aku tahu, sekarang, semua masih serba gelap. Gelap.

Cloud Computing

DEFINISI:

CLOUD   : Awan (Internet)

COMPUTING   : Proses komputasi

  • Penggunaan teknologi komputer untuk pengembangan berbasis Internet dengan piranti lunak lengkap dan sistem operasional juga tersedia secara online.
  • Dengan kata lain, internet dan semua yang terkait dengannya, menjadi terminal pusat.
“Internet bisa dianggap awan besar. Awan berisi komputer yang semuanya saling tersambung. Dari situlah berasal istilah ‘cloud’. Jadi semuanya disambungkan ke ‘cloud’, atau awan itu.“ (Stevan Greve)
“Cloud computing is a style of computing in which dynamically scalable and often virtualized resources are provided as a service over the internet. Users need not have knowledge of, expertise in, or control over the technology infrastructure in the cloud that supports them.”

Ini adalah sebuah model layanan berbasis Internet untuk menampung sumber daya sebuah perusahaan. Artinya sebuah perusahaan tak perlu lagi memiliki atau mendirikan infrastruktur lantaran sudah ada perusahaan lain yang menyediakan “penampung” di cloud alias Internet. Sebuah perusahaan tak perlu lagi mengalokasikan anggaran untuk pembelian dan perawatan infrastruktur dan software. Perusahaan pun tak perlu memiliki pengetahuan serta merekrut tenaga pakar dan tenaga pengontrol infrastruktur di “cloud” yang mendukung mereka. Perusahaan yang menyediakan layanan semacam ini adalah Google, Microsoft, Zoho, Amazon, dan SalesForce.

Menyewa akan menimbulkan biaya yang disebut OpEx – Operasional Expenditure, yang sifatnya rutin dan cenderung tetap. Membeli akan menimbulkan CapEx – Capital Expenditure, yang sifatnya hanya sekali pada saat membeli, namun disertai dengan biaya-biaya lain seperti pemeliharaan maupun biaya depresiasi capital. Perusahaan pengadopsi teknologi ini tidak perlu membeli peralatan / hardware. Perusahaan juga tidak perlu membeli lisensi / software. Ekstrimnya, perusahaan tersebut juga tidak perlu memiliki departemen IT yang bertugas untuk memonitor server, storage, jaringan, dan aplikasi bisnis.

Konsep Cloud Computing

  1. Infrastructure as a Service (IaaS) : konsep tertua dimana pengimplementasiannya banyak dilakukan mulai dari penggunaan atau penyewaan jaringan untuk akses Internet, layanan Disaster Recovery Center, dsb.
  2. Platform as a Service (PaaS) : konsepnya hampir serupa dengan IaaS. Namun Platform disini adalah penggunaan operating system dan infrastruktur pendukungnya. Yang cukup terkenal adalah layanan dari situs Force.Com serta layanan dari para vendor server.
  3. Software as a Service (SaaS) : berada satu tingkat diatas PaaS dan IaaS, dimana disini yang ditawarkan adalah software atau suatu aplikasi bisnis tertentu. Contoh yang paling mutakhir adalah SalesForce.Com, Service-Now.Com, Google Apps, dsb.

Keuntungan Cloud Computing

  • Murah: Trend sesungguhnya dari komputansi awan justru terjadi pada perusahaan. Perusahaan tiap tahun dipusingkan pengeluaran besar untuk membeli piranti keras dan lunak. Bila cukup membeli satu terminal, bukan saja lebih murah, tapi juga perlengkapan yang simpel lebih tahan lama.
  • Ramah Lingkungan: Pada umumnya, komputer di rumah meniupkan udara panas. Udara panas itu berasal dari energi. Energi dibutuhkan supaya komputer bisa nyala. Tapi kebanyakan energi itu menjadi udara panas. Dengan ‘cloud computing’, sebuah komputer pusat, maka di rumah dibutuhkan lebih sedikit listrik, jadi sangat menghemat.

Kekurangan Cloud Computing

  • Service level: Cloud provider mungkin tidak akan konsisten dengan performance dari application atau transaksi. Mengharuskan anda untuk memahami service level mengenai transaction response time, data protection dan kecepatan data recovery.
  • Privacy: Karena orang lain / perusahaan lain juga melakukan hosting kemungkinan data anda akan keluar atau di baca oleh pemerintah U.S. dapat terjadi tampa sepengetahuan anda atau approve dari anda.
  • Compliance: Cloud service provider diharapkan dapat menyamakan level compliance untuk penyimpanan data didalam cloud

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa Kabar Bisnis Informatika di Indonesia?


Ada sebuah terminologi menarik di era teknologi seperti saat ini seputar dunia bisnis. Mungkin kita mengenal profesi seperti enterpreneur, wiraswasta atau pedagang. Mereka semua adalah orang-orang yang mampu bekerja mandiri untuk mendatangkan keuntungan melalui proses bisnis / usaha. Jenis usaha yang mereka geluti bermacam-macam, mulai dari jual beli pupuk kandang sampai ekspor mobil mewah ke negara-negara maju. Perkembangan dunia modern memaksa mereka selalu meng-upgrade peralatan produksi guna menjaga produktifitas usaha. Oleh karena itu banyak orang yang memanfaatkannya untuk menjalankan usaha di bidang teknologi. Mereka inilah yang disebut Technopreneur.

Technopreneur sudah menjadi terminologi yang cukup populer dewasa ini. Mereka sering dikaitkan pada jenis usaha di bidang IT atau komputer. Namun jangan salah persepsi dulu, sebab dari asal-usul kata, tidak semua Technopreneur berkecimpung di dunia komputer. Di dalam Merriam-Webster Online Dictionary (http://www.m-w.com/dictionary/technopreneur) Technopreneur adalah “an entrepreneur whose business involves high technology”. Teknologi itu sendiri di bagi menjadi dua, yaitu Technology dan High Technology (hi-tech). Jika dikaitkan dengan Technopreneurship, maka ia lebih mengacu pada High Technology yang sifatnya luas, tidak mewajibkan pelakunya bergerak di bidang Sistem Informasi atau Teknologi Informasi. Bisa saja usaha teknologi jagung dan sayur mayur dengan varietas hasil riset baru (bioteknologi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Berbeda dengan IT Enterpreneur atau sering kita sebut IT-preneur yang khusus berkutat di dunia IT atau komputer saja. Technopreneur merupakan akronim dari kata Technology dan Enterpreneur, kedua istilah yang menyebut adanya komponen teknologi dari kegiatan bisnis.

Read the rest of this entry »

Sporadis

Biar, biar kakiku patah ditelikung nasib
Biar tanganku berdarah mengais asa yang tak kunjung tiba

Semeru, mendengarkah kau?
Mandalawangi, adakah kau dengar?

Pedih ini, ijinkan kusemai
Melampaui batas-batas hutanmu
Melewati tepi-tepi jurangmu

Tak usah banyak tanya
Yang perlu kau lakukan hanya diam

Tak perlu pula kau pahami
Hanya sedikit mengerti

Tahu apa kau tentang hidup?

Stereotipikal

Macam moncong malaikat saja
Tak punya konsepsi dalam berkata
Klise

Manusia macam ini perlu dibumihanguskan
Pandangannya 180 derajat
Lurus, lurus tak punya belokan
Memalukan!

enyah saja kau, manusia stereotip!

Konspirasi

Pada hujan
Pernah kusampaikan sekelumit pesan
Tentang hidup yang lelah menanggapi bosan

Pada jatuhnya
Sempat kututurkan sebait cerita
Tentang bala yang tak kunjung reda

Pada dinginnya
Tak lupa kuucapkan seulas kata
Tentang jiwa yang meronta-ronta

Pada gemericiknya
Pada alirannya
Pada syahdunya
Pada damainya

ini aku, bagian dari deraimu