Born to be a Man (from me to myself)

Surely everyone has traveled through their lives searching for what they want

Like seeds gathered by tiny hands, becoming sturdy trees

 

No one’s found the answer yet

Maybe I know, you know

Born to be a man

 

The reason why the flowers smell sweet

The reason why the birds sing

The reason why the wind shines

The reason why the moon revolves

 

The reason why I convey my love to you like this

It’s all so you can love someone someday

The hope is love

Love is all

 

The things that are truly important can’t be seen or touched

That’s why no matter how great or heavy they are, you can walk easily carrying them

 

Even on nights when you can’t hear anything

Promise I’m here, you hear?

Born to be part of the world

 

The reason the flowers wither

The reason the feathers fall

The reason you face into the wind

The reason the night surrounds you

 

This is how you will grow strong

So that someday you can protect someone

The hope is love

 

Even if right now you’re a tiny boy without any power

I hope that someday you can become strong

 

Although right now even the smallest dreams can’t be granted right away

Surely they will in time

 

credit : SNSD

Skripsi Revolusioner atau Lulus tahun ini? #2


Seumpana alam liar, maka aku adalah pemburu amatiran yang menyerahkan diri pada raja hutan. Suatu bentuk tindakan sembrono yang jelas-jelas dilarang agama mana pun. Entah setan mana yang berani merasuki jiwaku hingga akhirnya aku memilih dosen pembimbing sekelas beliau. Banyak kalangan yang mempertanyakan, tidak sedikit yang merasa heran, tapi aku punya alasan, aku punya pertimbangan. Selain pola pikirnya yang unik menggelitik, beliau adalah koordinator kerja sama luar negeri, siapa yang dapat menyangka jika tahu-tahu aku “kecipratan”.

Jika sudah begini, aku pun sudah dapat meramalkan nasibku ke depan. Penuh dengan marabahaya dan rintangan yang bisa saja dengan tiba-tiba menusukku dari belakang. Dan buat orang galau, firasat adalah satu-satunya penuntun jalan, kadang sampai tujuan, tapi yang lebih sering terdengar masuk jurang. Dan semua kegalauan ini bermula pada satu waktu dimana judul skripsi menjadi primadona pemikiran, sepanjang malam.

Topik yang ingin aku angkat untuk dijadikan bahan penelitian skripsi adalah Bioinformatika. Selain Matematika dan Fisika, Biologi adalah sisi lain dari diriku. Dan setiap mendengar kata “gen”, darah mudaku bergejolak. Kata itu menstimulus otakku untuk lebih keras bekerja, tentunya dalam hitungan irama. Maka untuk menjadapatkan judul yang pas, aku menghabiskan waktu berminggu-minggu. Terjebak dalam masa-masa galau yang membuat risau. Wajah yang ditekuk, rambut yang berantakan, pakaian yang lusuh menjadi top mode 2011, paling tidak dalam duniaku, dalam keseharianku. Sampai-sampai aku menginap di kantor untuk sekedar mengumpul-ngumpulkan keberanian menentukan pilihan. Do’a, hampir bosan aku panjatkan. Namun, inspirasi itu tak jua tiba.

Hingga pada suatu ketika, dalam masa pencarian ide via internet, aku menemukan sebuah artikel yang membahas mengenai masa depan gen. “Cocok!” aku membatin. Dengan terbata-bata, aku baca satu per satu kata walau jujur agak tersiksa. Barangkali kawan tahu betapa memprihatinkannya pengetahuanku tentang bahasa inggris. Namun, setelah agak kupahami isi dari artikel tersebut, tiba-tiba ada lampu menyala di atas kepalaku. Benderang!

Maka usahaku untuk menggali sebanyak mungkin informasi mengenai hal tersebut terus aku lakukan. Salah satunya adalah bertanya pada kawan-kawan di twitterland. Hasilnya memuaskan. Berkenalanlah aku dengan seorang Bioinformatician, Arli Aditya Parikesit. Seorang asisten peneliti di Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Semenjak itu, kami sering berbalas email, terkait dengan topik penelitian yang aku ajukan. Dan seiring dengan surat-surat yang meluncur di inbox, aku semakin sadar siapa diriku, seberapa besar kapasitasku untuk sebuah subject bernama Bioinformatika yang jelas-jelas aku buta! Namun beliau masih tetap memberikanku peluang untuk sedikit berharap. Kuncinya, terletak pada Dosen Pembimbing.

Judul, memang belum aku temukan seutuhnya. Paling tidak aku sudah memiliki 4 topik unggulan yang akan aku jadikan senjata untuk menodong Dosen Pembimbing. Inilah mereka:

  1. Analisa penyakit online berdasarkan gen
  2. Klasifikasi virus/bakteri
  3. Bank data gen Indonesia
  4. Search engine biologi molekular
Setelah aku baca berulang-ulang topik-topik tersebut, aku sungguh terkesan. Tapi di sisi lain ada yang membisikkan, “apa bisa dilakukan?” Maka, dalam kegamangan aku berusaha mati-matian meyakinkan diri untuk terus maju, apa pun yang terjadi. Dan tibalah waktunya untuk menodongkan ‘senjata-senjata’ itu tepat di muka Dosen Pembimbing. Aku agak nervous sekaligus cemas-cemas berharap. Dan dalam hitungan detik, ‘senjata-senjata’ yang aku todongkan tadi berbalik arah, menodongku. “Sial betul! ” pikirku. Dalam keadaan tersebut aku dikagetkan dengan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan yang mengenaskan. Ya ampu, demi Tuhan, jangan sampai kejadian. “Kamu mau skripsi 2 tahun kayak saya?” Tiba-tiba, lagi, semua kembali gelap.

NB: Thank to Evans yang udah ngasih tempat buat cari wangsit 😛
Posted in Skripsi. Tags: . 2 Comments »

Skripsi Revolusioner atau Lulus tahun ini? #1

Judul tulisan ini, jika kawan mau tahu, sudah berminggu-minggu terpajang di status YM-ku. Mungkin sedikit terlihat naif, tapi itulah aku, senang sekali berkutat dengan cobaan maha berat sampai berhasil melampaui batas-batas realitas. Disokong oleh super ego yang aku miliki, maka aku ini tipe orang yang keras kepala, tak mudah melepas begitu saja apa yang telah lamat-lamat aku yakini. Walaupun pada akhirnya aku pun akan tahu, bahwa aku ini, tidak lebih dari seorang pangeran yang merindukan bulan. Kata orang dulu ini idealisme. Ya, kata orang dulu. Di zaman edan ini paham idealisme tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa! Ah, sudahlah.. Pembahasan mengenai idealisme silakan kawan cari tahu sendiri. Aku tak mau ribut-ribut soal pemahaman dan keyakinan. Aku tak mau menelanjangi kebenaran.

Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orangtua, sejak dulu. Maka, dalam setiap keputusan yang aku tetapkan, larinya tak jauh dari ‘membahagiakan orangtua’, demikian pula halnya dengan apa yang sedang aku jalani saat ini, skripsi. Perlu kawan ketahui, kampusku adalah salah satu almamater yang menjunjung tinggi kebijaksanaan. Jadi jika ada mahasiswanya yang ‘berhalangan’ untuk menyusun skripsi, maka mahasiswa beruntung tersebut dapat lulus dan wisuda dengan mengikuti paket ujian yang telah disediakan. Tapi buatku, skripsi nomor satu. Kenapa? Ya, karena menurutku menulis skripsi adalah suatu tanggung jawab seorang intelektual muda. Skripsi adalah karya pribadi, hasil dari penelitian yang jauh dari main-main. Tujuannya? Jelas untuk pengabdian pada masyarakat. Maka aku, yang masih berpredikat sebagai mahasiswa, terlepas dari beban-beban moral yang sering dikaitkan, entah itu “agent of change” atau apa lah,  punya tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa ini, sekecil apa pun bentuknya.

Selaras dengan judul yang dipajang berminggu-minggu, agaknya selama itu pula setan-setan galau memantau. Tidur tak nyenyak, makan pun tak enak. Dada sesak, kembang kempis persis katak. Tak jauh beda dengan orang yang kena santet! Pada tahap ini aku hampir benar-benar ambruk. Padahal permasalahannya terletak pada satu hal sederhana, menentukan judul. Tapi, semua orang tahu, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Maka judul skripsi adalah niat. Mau dijadikan apa penulisan ini, untuk apa, dan apakah manfaatnya dapat dirasa. Semua berkecamuk, hilir mudik, mondar mandir, jungkir balik dalam sebuah labirin ketidakpastian. Bahkan untuk menentukan dosen pembimbing pun aku tak berdaya, begitu banyak orang pintar (dalam artian sebenarnya) disini. Dan dengan segala pertimbangan teknis dan psikis akhirnya aku memilih Dr. rer. nat. I MADE WIRYANA, SSi,SKom,MSc. Tragis!

Seperti dugaanku, seperti ulat bulu, tiba-tiba aku diserang banyak pertanyaan. Dosen yang seharusnya di blacklist dalam daftar calon dosen pembimbing itu malah aku hitamkan. Ada yang memuji tapi tak sedikit yang membuat sangsi. Pasalnya dosen satu ini dikenal “sulit”. Kebiasaannya lain dari yang lain. Maka beliau adalah dosen yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Terlebih untuk pemilihan perangkat lunak, anti berlisensi. Aku sudah tahu ini, dan aku akan menerimanya sebagai resiko alami. Dan aku pun nantinya akan tahu pula, bahwa skripsi yang akan aku jalani akan berbeda dengan orang kebanyakan, baik dari sisi topik sampai perangkat-perangkat pendukung untuk penulisan. Dan aku tahu, sekarang, semua masih serba gelap. Gelap.