Sporadis

Biar, biar kakiku patah ditelikung nasib
Biar tanganku berdarah mengais asa yang tak kunjung tiba

Semeru, mendengarkah kau?
Mandalawangi, adakah kau dengar?

Pedih ini, ijinkan kusemai
Melampaui batas-batas hutanmu
Melewati tepi-tepi jurangmu

Tak usah banyak tanya
Yang perlu kau lakukan hanya diam

Tak perlu pula kau pahami
Hanya sedikit mengerti

Tahu apa kau tentang hidup?

Stereotipikal

Macam moncong malaikat saja
Tak punya konsepsi dalam berkata
Klise

Manusia macam ini perlu dibumihanguskan
Pandangannya 180 derajat
Lurus, lurus tak punya belokan
Memalukan!

enyah saja kau, manusia stereotip!

Konspirasi

Pada hujan
Pernah kusampaikan sekelumit pesan
Tentang hidup yang lelah menanggapi bosan

Pada jatuhnya
Sempat kututurkan sebait cerita
Tentang bala yang tak kunjung reda

Pada dinginnya
Tak lupa kuucapkan seulas kata
Tentang jiwa yang meronta-ronta

Pada gemericiknya
Pada alirannya
Pada syahdunya
Pada damainya

ini aku, bagian dari deraimu

Ketika Pagi

masih kudengar, suara denting air jatuh di sela-sela hati
mengalir, membasahi setiap bilik yang lama tak terusik

bangunkan aku,
terasa lelah jiwa ini untuk terus bermimpi
tanpa ada langkah yang kubuat agar ia mendekat

tapi pagi
selalu membuatku bersemangat

karena ku yakin
langit masih ingin memberiku hari
dan matahari
masih setia menanti di balik awan tinggi

Posted in Poetry. 3 Comments »

Puisi Soe Hok Gie (3)

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah di Mekah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
berbicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bomdi Da Nang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati disisimu manisku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Read the rest of this entry »

Posted in Poetry. 4 Comments »

Puisi Soe Hok Gie (2)

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku

Read the rest of this entry »

Puisi Soe Hok Gie (1)

aku tak tahu mengapa
aku merasa agak melankolik malam ini

aku melihat lampu2 kerucut dan arus lalu litas jakarta dengan warna-warna baru
seolah-olah semua diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan
semuanya terasa mesra tapi kosong

seolah-olah aku merasa diriku yg lepas
dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan

perasaan sayang yang amat kuat menguasaiku
aku ingin memberikan suatu rasa cinta pada manusia